Postingan

Masterpiece15

Gambar
Kunang - Kunang Kehidupan Aku seekor kunang - kunang Terbang dan menyala diantara kumpulan ilalang Di bawah purnama yang selalu tak bersandiwara Dan malam, patuh pada perannya Tak seperti matahari yang bercengkrama dengan kidung eloknya Rumahku mulai kusut, tanah kering keronta Kumbang kembang telah mati Dengan akalnya sendiri Lalu aku membenci si malam sialan Dingin, senyap, dan menyebalkan Biarlah semua menjadi sepia dan gersang Namun ilalang berkata; bahwa ada keajaiban di setiap pijar Dan ia percaya  Diriku cahaya semesta yang tak pernah pudar

Masterpiece14

Gambar
KATA SI MERAH JAMBU Menyusur jalan dengan mobil tua Berkarat dan tak terjebak rintik hujan Pergi saling bercanda dengan waktu Apakah benar aku tiba? Langkah tak ingin berhenti Walau temukan emas di jalanan lengang Aku tetap melewatinya Merah jambu mengusikku Lagi dan enyah terganti Namun belati tetap saja menanti Aku akan berlari untuk tertusuk tak akan berjalan untuk terhunus Merah jambu berhasil menggetarkanku Menghangatkan ruang dibawah ubun - ubunku Namun ku tetap disini Hingga kau mampu dilumpuhkan waktu Dan waktu tak bisa melumpuhkan langkahku

Masterpiece13

Gambar
PUTIH Putih itu memang langka Jarang ditemukan dibalik kain - kain penutup malu Memang benar, sungai telah lama kering keronta Derasnya hanya setetes darah Keruh seraya mengalir membasahi ubun - ubun Membodohi, menganomali akal dan nurani Apakah darah yang bernafas pantas disebut binal? Ataukah jalang? Hanya culas yang menyandangnya suci Putih itu memang langka Namun cahaya ada bagi penjemputnya Yang sadar akan pergantian pagi hingga kelam Sempit dan lapang Suka atau durja Tenanglah, tangan-Nya begitu adil Memegang cinta dan kasih Untuk kita, si hitam sekalipun

Masterpiece12

Gambar
Senja di Sore Itu Secangkir kopi memanggil nyanyian sore Senjaku tertidur diantara pekatnya mega Aku meraung, merindu merah di awal malam Angin pun tak menyapanya, bahkan tak bersahabat dengan siapapun Ia kibarkan semua daun tapi keruh sudah buana lesungku Engkau hanya berbasa basi pada orang yang salah Pergi saja, aku tak butuh Yang kubutuhkan hanya satu Senja yang hangat tapi tak membakar Senja yang sunyi tapi tak mencelakai

Masterpiece11

Gambar
KEOS BERJALAN LEWATI KUMPULAN SI KUNANG - KUNANG YANG SELALU MERINDUKAN CAHAYA MALAM BULAN SEMAKIN TEDUH DAN PUCAT SI KUNANG - KUNANG TERBANG, MEMANGGIL YANG TELAH JAUH NAMUN IA TAKKAN PERNAH MERAIHNYA DAN JATUH RUMAH - RUMAH MASA MENGIRINGKU KEMBALI KE RUMAH BERLIKU SEJAUH MATA MEMANDANG PERKENANKAN DIRIKU  MENYAMBUT LAGI TEMAN AKRAB YANG TAK KUINGINKAN TEMAN AKRAB SIALAN BAGAIMANA AKU TAK BISA TERUSIK OLEHNYA JIKA DATANGNYA BAGAI JAGUAR DAN TAK TERLIHAT MELEMAHKAN APA YANG HIDUP MEMATIKAN APA YANG BERNAFAS RUMAHKU SEMAKIN DEKAT AKU BERBISIK KE TANAH UNTUK HARAPAN DAN PUJI KARENA AKU TAKUT  CAHAYAKU LENYAP TAK TERGANTIKAN SEBELUM AKU BENAR - BENAR KEMBALI

Masterpiece10

Gambar
  CINTA DAN PERSIMPANGAN Jalan panjang ini kehilangan sebait doa. Doa yang menghadirkan sebuah kerinduan. Kerinduan yang menjelma menjadi buta. Layaknya kelabu meredupkan matahari. Suara gema yang disuarakan oleh sepatuku.  Jelas terdengar. Bagaikan jarum berjatuhan diantara tebing Arizona. Entahlah, apakah ada yang berjejas dengan sepatuku Atau terlalu lengang rongga di dalam rusukku? Melihat sekeliling. Tak ada siapapun selain hitam dan duri. Aku harap mereka menjadi putih dan mawar. Tak dipungkiri, untai doa meriuh dari persembunyian kata - kata. Hingga Ia menuntun pada tempat yang bisa aku asa.  Seketika kaki ini membeku. Menemukan dirimu pada detik - detik piringan waktu. Membaur tanpa lugas menjadi satu. Saling memahami tentang arti cinta dan semu. Andaikan pemilik waktu memainkan perannya. Memisahkan kita pada suatu titik persimpangan. Titik dimana doa diuji kedua kali Aku tak ingin memaksa. Kar...

Masterpiece9

Gambar
IMAJIKU TERBAKAR Diriku senandika Pada malam yang tak ingin berganti siang Acap kali angin dihembus oleh timur  Mengajak bintang tuk bergulir memanggil matahari Namun waktu tak secepat kereta kencana Atau jam istana saat Cinderella berdansa Malam ini akan jadi malam yang tak biasa Biarlah mimpi mimpi berandang terbang bebas ke alam liar Ke angkasa sekalipun, menemani para astronot melihat dunia Bernyanyi, berteyan bersama gitar tua lantunkan tembang pucuk cinta Jangan hiraukan manusia Dia tak tahu sebesar apa mimpiku, sondaikan saja hingga semuanya jatuh lalu hancur Tak tahu seyakin apa diriku pada idraku, hingga merundung buatku terkubur  Tertawalah yang lantang walau tawamu tak terdengarkan Picingkan sesukamu, walau matamu tak berterus terang Aku tak gamang! Berlari ke depan, semangatku bergencar  Kuatkan mental lebarkan layar! Diriku berkemudi pada satu pemikiran, dua pegangan, banyak keberanian