Masterpiece4




IBU PERTIWI DIJAJAH LAGI

 

Biarpun jaman tak lagi kokoh, tanah berpijak tak lagi tegar
Lembaran lama pengikrar muncul tuk bercerita
Kisah begitu pedih, berpeluh dan berkesah
Tangan – tangan genaralis sibuk mengubah sejarah
Mereka ada, mereka berorasi bukan untuk mengglorakan namanya
Mereka berbicara untuk indonesia

Lain sisi, pahlawan dari fajar membawa baranya
Serdadu menyeru, berderap layaknya kuda baja
Bambu runcing di genggaman, keris dan golok diacungkan
Agar menir menir bertopi habis di depan mata
Sambil berharap pada suatu titik kebebasan
Proklamasi

Hingar bingar kini telah menyapa
Ramaikan hari, lapisan strata bersorak sorai
Antusias merajai
Bendera berkibar !
Jantung berdebar !

Agustusan, seremonial semata, nasionalisme memudar
Tak ada apa – apa
Hanya di pelopak lalu hilang dibuang jauh
Apa daya kita kawan?


Lihatlah !
Ibu pertiwi palingkan muka, tak henti bermuram durja
Apakah masih ada lawan?
Lawan itu adalah kau sendiri, bisikmu di dalam kerenungan
Kita terjajah mental
Mental mental miskin, moral moral telah buta sebelah
Meski kaliber sudah musnah
Bebaskan dari rengkuhan pembodohan
Agar bisa menghela dambaan para insan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masterpiece10

Masterpiece3

Masterpiece5